Senin, 13 Februari 2012

Type Karyawan


Type type karyawan dan cara mengantisipasinya :

TYPE KURANG PATUH
Ini yang sedang ane alami sekarang. Punya karyawan yang kurang patuh. Ane suruh tapi enggak langsung dikerjakan malah mengerjakan yang lain. Tau tau pelanggan komplain kok belum diantar barangnya, kok belum diambil barangnya. Bagaimana mengantisipasinya ? sabar dan terus mendidiknya.
Loh kok enggak marah ? Jangan. Bila anda marah maka anda rugi 2 kali. Rugi karena ketidakpatuhannya (komplain dari pelanggan) dan rugi stress buat anda sendiri. Dipecat aja dong ? Jangan. Karena kalau dipecat maka ada jutaan orang diluar sana yang berperilaku seperti itu dan tidak berubah. Anda yang sukses adalah anda yang mampu menciptakan orang lain sukses. Dalam hal ini sukses membuat karyawan anda menjadi seorang yang patuh. Dan kalau anda memecatnya berarti anda kalah, dan mampu dikalahkan oleh orang yang kurang patuh. Itu rugi, dan anda tidak kredible dalam menangani masalah.


TYPE PENCURI.
Ini pernah ane alami dulu. Punya karyawan yang ngambil barang kita lantas menjualnya, dan uangnya tidak disetorkan. Atau pinjam tapi tidak dikembalikan. Atau mengambil uang pelanggan dan tidak disetor. Kebetulan ane belum bisa mengantisipasinya. Karena mereka kabur tak tahu rimbanya.
Loh lapor aja ke Polisi ? Mungkin sebagian orang berpendapat demikian. 

Tapi tahukah anda, nama baik seseorang akan tercemar bila kita membuat laporan pencurian dengan mengatakan nama yang bersangkutan. Mungkin kalau kita dicuri dan tidak tahu pencurinya, sebaiknya kita lapor. Dan pihak keamanan atau yang berwajib akan menanganinya. Tapi kalau kita tau pencurinya lantas melapor dan disebutkan namanya, maka track record dia akan tercatat selamanya dalam buku kriminal. Boleh melaporkan tapi tidak disebut namanya, ciri cirinya saja.

Menulis di catatan kriminal lebih gampang ketimbang menghapusnya. Itu tidak sebading dengan harga dia sebagai seorang manusia. Yang hanya mencuri televisi, atau uang 3 juta, dll
Kalau seorang manusia tidak dapat dihargai dengan uang, saking mahalnya, maka seisi alam bumi ini bila dicuri maka tidak sebading dengan seorang manusia. Kenapa mahal sekali harga seorang manusia. Coba saja anda buat seorang manusia, tanpa harus making love, tanpa campur tangan Tuhan, apa anda bisa ? Keluarkan seluruh harta didunia untuk membiayai pembuatan manusia ... apa bisa ? Jangankan manusia, seekor nyamuk pun anda pasti gak akan bisa membuatnya. Bukan nyamuk robot loh. Tapi nyamuk yang sukanya menggingit manusia, mengisap darah, dan bisa bereproduksi melahirkan nyamuk lain.

Mungkin ada penelitian yang mengatakan beberapa zat dialam bersenyawa dan diberi kilatan listrik menghasilkan asam amino, yang merupakan bagian dasar dari kehidupan. Itu salah besar. Karena asam amino tanpa ruh mana bisa hidup. Dengan ruh tanpa ada rasa, maka gak bisa bereproduksi.
Jadi kalau anda melaporkan seorang manusia karena kejahatannya, maka akan tercemar selamanya. Lain halnya ketangkep Polisi terus dipublikasikan itu artinya ketangkep basah, dan apes. Jadi tugas Polisilah yang mengungkapkan kasus dan nama seseorang penjahat. Kita lebih bijaksana hanya bisa mengatakan ciri cirinya saja, tanpa disebut namanya, dan biarkan Polisi bekerja. Karena kalau kita kasih tau namanya, maka seumur hidup dia akan menjadi daftar hitam. Kasihan khan. Tidak dapat pekerjaan dimana mana, dan selamanya ngumpet. Atau malah selamanya jadi pencuri. Karena dia susah bergerak. Belum lagi alasan dia mencuri. Yang penting adalah bukan pencurinya masuk penjara (karena pasti akan merugikan negara, memberi makan gratis), tapi yang jauh lebih penting adalah mengantisipasi agar orang tidak mencuri, tidak suka mencuri, tidak mempunyai kesempatan mencuri, atau malah yang punya jiwa pencuri tidak jadi mencuri .... juga keamanan dan kenyamanan orang sekitar. Sehingga kalau kita bisa mengantisipasinya, maka tidak muncul pencuri baru.

Jadi ikhlashkan saja apa yang sudah hilang. Karena Hukum Tuhan akan berjalan. Orang yang mencuri pasti dapat hukumannya. Kalau tidak sekarang maka nanti diakhirat. Dan kitapun yang dicuri pasti dapat gantinya. Loh berarti kalau kita gak kasih namanya maka tidak membantu Polisi ? Kita khan udah kasih tau ciri cirinya pencuri.

Iya udah kasih tau ciri cirinya, tapi nanti banyak yang korban dia berikutnya kalau tidak dikasih tau nama pastinya dan segera ditangkap ?
Pembaca yang budiman. Seorang pembuat virus akan lebih hebat dari anti virusnya. Karena dia lebih dulu tahu cara membuat virus daripada antivirusnya. Dan setelah itu pasti si pembuat anti virus mengantisipasi celah celah kosong yang serupa dengan virus tersebut. Dan si pembuat virus jadi harus berpikir banyak lagi untuk mencari celah yang berbeda. Karena celah yang sama sudah diantisipasi.

Seorang pencuri akan lebih hebat dari yang dicuri, makanya dia bisa mencuri. Dan kalau kita kasih tau langsung seseorang pencuri lengkap dengan namanya, identitasnya, alias tinggal diciduk, maka Polisi gak belajar cara menjaga keamanan, dan cara mengantisipasinya atau mencegahnya dari kecurian berikutnya, dan selamanya akan muncul pencuri pencuri baru. Karena celah yang sama begitu rapuh. Jadi pekerjaan Polisi hanya nangkepin orang bukan menjaga keamanan, dan mengantisipasi keamanan.

Kalau pertahanan dan keamanan kuat maka pencuri tidak ada kesempatan untuk mencuri. Karena diintai terus menerus. Dan ini terjadi di singapore. Aman. Dan hampir jarang ditemukan berita pencurian. Karena Polisi mempelajari terus menerus cara mengamankan daerahnya. Entah itu dengan CCTV atau lainnya. Sampai sampai orang yang berkesempatan mencuri tidak dilakukannya.  Ane pernah ketinggalan tas ane di taksi, dan udah sebulan lamanya ane gak urus itu tas. Tapi ketika ane lapor ke LTA di Singapore, dengan disertai struk bukti ane naik itu taksi ada nomornya dan tanggal juga jamnya, maka dalam tempo 1 hari udah ane dapetin itu tas, dan isinya gak ada yang hilang satupun.

Itu karena Polisi disana sudah mengantisipasinya. Dan terus belajar cara mengantisipasinya. Agar kejadian serupa tidak terjadi.
Karena ketika polisi disodori laporan terus menerus ciri ciri seorang penjahat, dan tak tahu namanya, maka Polisi akan hati hati dan dibuatlah sketsa wajah tersebut. Agan mungkin tau bahwa Densus 88, mengungkap penjahat dengan ciri ciri tertentu tanpa tahu namanya, hingga mereka bisa mendapatkan nama beberapa alias dari seorang teroris. Itu karena semula mereka tidak tahu namanya, dan terus mencari tahu. 

Jadi kalau semua reserse secanggih densus 88 maka pertahanan dan keamanan akan membaik. Karena sampai sekarang pencurian masih angka yang tinggi. Itu karena Polisi dapat menangkap mudah pencuri tanpa mempelajari cara mengantisipasinya. Karena laporan yang masuk terlalu lengkap. Dan pencuri gampang ditangkap, tapi pencegahan pencurian tidak diantisipasi.

karyawan yang nyolong/nyuri ada beberapa kemungkinan dan antisipasinya :
  • Kebutuhan tambahan karena merasa kekurangan dalam hal finansial, gaji yang tidak sesuai, reward yang tidak ada, benefit (asuransi, tunjangan makan, tunjangan kesehatan, jamsostek) tidak ada atau tidak komplet, bonus tidak ada .... dengan demikian mereka akan berpikir ekstra untuk mendapatkan tambahan itu. Salah satu jalan dengan mencuri.
  • Perusahaan tidak bisa di kasboni - diutangin. Sebenarnya harusnya setiap divisi harus memiliki kas. Biasanya untuk mengantisipasi karyawan yang membutuhkan dana ekstra, seperti anaknya sakit, orang tuanya butuh mendadak, dll.
  • Arisan. Ane gak nyaranin. tapi kadang tradisi arisan ini membantu. Biasanya membantu karyawan untuk menangani kesulitan finansial. Karena menabung 100 ribu dicicil tiap bulan lebih gampang daripada harus kesulitan ketika tiba tiba rumah kebakaran, atau atap jebol, tiba tiba harus bayar uang ekstra sekolah anak ...
  • Bisa jadi emang kebiasaan ngutil atau nyolong. Ini memang harus ada training, disamping training etika, moral, agama, juga harus ada konsultasi setiap minggu atau 2 minggu sekali diajak konsultasi orang perorang, tentang masalah kerja, keluarga, kebutuhan keluarga.
  • Tidak menerapkan pinjam barang. Kalau perusahaan ane dulu pernah orang mengambil barang, maksudnya pinjam sebentar tapi dianggap mencuri karena tidak disertai surat pinjam barang, padahal sepele cuma multimeter, hal ini dikarenakan perusahaan terlalu ketat menjaga propertynya karena karyawan tidak bisa meminjamnya. Kalau hal hal sepele, kasih pinjam aja. Jangan terlalu ketat. karena barang barang sepele sebenarnya membantu kita juga. Seperti kalau mereka pinjam laptop, biasanya pekerjaan kantor juga ikut dikerjakan walaupun kebanyakan fesbuknya yang penting dikerjakan. Yang penting kalau rusak diganti dengan yang sama. Jangan didenda berlipat lipat. Tapi suruh ganti dengan merek, kondisi, spesifikasi yang sama. 

TYPE YANG SUKA MENGAMBIL KESEMPATAN DAN CARI PERHATIAN.
Waspada dengan type seperti ini. Karena kadang perhatiannya gak tulus. Dan pasti ada maunya. Kalau enggak minta dinilai dan dinaikkan gajinya, atau memang pengen deket dengan kita (affair). Cuma kadang bos tertipu. Bahwa bukan berarti orang yang loyal kepada dia adalah loyal yang murni, ini memang perlu pendalaman. Cara mengantisipasinya memperlakukan sama orang orang yang seperti kelihatan giat sekali, atau orang yang kerja optimal, maksimal ataupun orang yang kerja minimal.


Seperti memberikan reward dan punishment yang sama kepada setiap orang yang berprestasi atau yang membangkang, tanpa melihat dia dekat, terlalu dekat, atau jauh dan terlalu jauh dengan kita dalam keseharian. Itulah perlunya kerja profesionalitas. Kalau tidak, mungkin anda akan digunjingkan oleh karyawan lain, dibilang pilih kasihlah, tidak adil, atau tidak profesional. Dan suatu saat bos seperti ini akan ditinggalkan oleh karyawannya. Walau sama orang yang dianggapnya paling loyal sekalipun. Karena hampir 100% orang yang loyal dalam perusahaan itu karena ada maunya, kecuali pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan sosial atau keagamaan, atau karyawan yang mengharapkan ridho dari yang Maha Kuasa saja dalam bekerja.

Sebagai buktinya kalau anda sebagai bos sakit keras di rumah sakit, lantas di bentrokkan dengan karyawan yang dianggap loyal sekalipun misalnya yang sedang menunggu orang tua yang sakit biasa, atau anak yang sakit biasa, atau yang sedang melakukan transaksi jual beli rumah ratusan juta atau milyaran keuntungan, maka karyawan yang dianggap loyal tersebut memprioritaskan kepentingan dirinya. Walau hanya dengan kata kata biasa, tunggu sebentar ya bu, atau nanti saya kesana bu ya.... padahal sebenarnya prioritas kepentingan sudah bergeser. Atau dicoba misalnya perusahaan bangkrut dan karyawan tidak digaji .... apakah yang loyal yang dulunya manggut manggut tetap tidak menuntut apa apa dan mengerti perusahaan?

TYPE OPTIMAL
Ini yang harus dipertahankan. Inilah aset sebenarnya. Inilah orang yg loyal murni, loyal sebenarnya, loyal seharusnya disesuaikan dg kadar dan tanggung jawabnya, tidak berlebihan. Sehingga profesionalitas terjaga. Orang terlalu loyal biasanya ada maunya.
Orang yang bekerja maksimal belum tentu baik bagi perusahaan, karena biasanya orang ini terlalu pintar dan mungkin dia akan mencari atau mendapatkan perusahaan lain yang sesuai. Dan dia akan sebentar aja diperusahaan tersebut. Jadi tidak bisa diambil manfaatnya terlalu banyak. Orang yang kerja minimal, mungkin akan selalu merugikan perusahaan.

TYPE MAKSIMAL

Mungkin kedengarannya menguntungkan perusahaan, tapi sebenarnya perusahaan tidak bisa mengambil manfaat banyak darinya (Dalam satu wilayah kerja). Biasanya orang yang kerja maksimal akan cepat naik pangkat, naik gaji, di pindahkan atau mutasi ke kota besar, dan menduduki jabatan strategis, setelah itu ada dua kemungkinan : kalau dia tetap di perusahaan maka mungkin akan dibutuhkan oleh cabang perusahaannya di luar negeri atau tempat lain sehingga scope nya sudah milik internasional, tapi kalau tidak diperusahaan lagi maka akan mencari perusahaan lain atau dia keluar mengundurkan diri, berpolitik praktis atau membuka usaha sendiri 

TYPE MINIMAL

Kebanyakan orang. Artinya kerjanya tidak sesuai dengan gajinya. Sehingga perusahaan kelebihan membayar gajinya. Biasanya orang yang korupsi waktu, kerjanya molor.
Antisipasinya : memberikan training kepribadian, motivasi, religi, etika kerja, dan arahkan pekerjaan disesuaikan dengan minatnya. Berikan reward dengan target tertentu. Fasilitas tambahan. Kalau masih kerja minimal, maka gajinya disesuaikan dengan pekerjaannya. Dia kerja baru dapat gaji, kalau gak kerja gak dapet penghasilan. Misal : kerja marketing atau sales.

TYPE PENUNTUT GAJI

Setiap orang pasti membutuhkan kenaikan gaji. Tapi kalau gaji yang diberikan harus terus dituntut untuk dinaikkan sebenarnya ini salah kaprah. Kalau enggak suka gaji sekian maka seharusnya mengundurkan diri saja. Toh banyak pekerjaan yang lebih besar gajinya selain di perusahaan tersebut. Kenapa mesti memaksakan perusahaan. Yang seharusnya adalah memaksakan diri sendiri untuk mencari pekerjaan baru dan membuktikan bahwa dirinya layak menerima gaji yang lebih besar. Padahal pada saat awal dia kerja, dia sudah menandatangani kontrak dengan gaji sebesar yang dimaksud. Kenapa harus ada demo kenaikan gaji ?. Kenapa tidak demo diri sendir untuk membuka usaha baru sendiri, sehingga anda sendiri dapat menentukan gajinya.
Antisipasinya : buat kesepakatan, kalau tidak menyukai aturan perusahaan atau gaji yang ditetapkan maka bisa dialihkan ke perusahaan lain atau silakan mengundurkan diri.

TYPE PASIF

Biasanya type abdi dalem, sumuhun dawuh, penurut, ngikut aja, atau asal kerja aja, yang penting dapat kerjaan. Type nerimo tidak banyak cingcong, tidak banyak nuntut, tidak ngeluh, tapi jarang kasih masukan. Antisipasi : harus diberikan motivasi bahwa masih bisa mendapatkan hidup yang lebih baik dari sekedar penurut, yakni berinovasi, berkreasi, menjadi inspirasi. Jadi harus dikasih training ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, kreasi, seni, motivasi.

0 comments:

Posting Komentar