Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Berbisnis atau Bekerja

Umumnya orang berpendapat setelah mencapai umur tertentu, misalnya setelah lulus sekolah atau kuliah, bahwa inilah waktunya keluar dan mencari lowongan pekerjaan. Dan seperti pendapat-pendapat umum lainnya, pendapat ini belum tentu benar. Hanya karena semua orang melakukannya, bukan berarti bahwa hal tersebut berarti benar. Malah jika kita benar-benar berpikir, mencari pekerjaan adalah hal terbodoh yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hidup.
Berapa banyak orang yang malah menderita setelah mendapat pekerjaan, berapa banyak orang yang malah ingin berhenti bekerja. Dan banyak lagi orang yang tidak puas dengan hidupnya karena pekerjaannya. Yang dimaksud bekerja disini adalah bekerja pada orang lain, bekerja hanya sekedar untuk mencari upah. Mengapa itu seharusnya tidak kita lakukan, berikut beberapa alasannya:

Pendapatan Terbatas
Mendapat pekerjaan, menjual waktu dan tenaga dan menukarnya dengan uang, sepertinya ide yang bagus. Cuma ada satu masalahnya, itu hal yang bodoh, itu cara yang terbodoh untuk mencari uang. Mengapa disebut bodoh ? karena kita hanya akan dibayar jika kita bekerja. Benar kan !! atau kita memang sudah diprogram untuk berpikir seperti itu. Pernahkah kita mempertimbangkan bahwa akan lebih baik jika kita tetap bisa mendapatkan uang sekalipun kita tidak bekerja ? siapa yang mengatakan bahwa kita hanya akan mendapat uang jika kita bekerja ? pegawai !!

Bukankah akan lebih baik jika uang tetap mengalir sekalipun kita sedang makan, tidur, atau bermain dengan anak ? mengapa kita hanya ingin dibayar 8 jam sehari, jika kita bisa mendapatkan bayaran selama 24 jam. Dibayar sekalipun bekerja atau tidak, tidakkah kita mempunyai rencana untuk melakukannya ? tidak inginkah kita bisa tetap menghasilkan uang sekalipun kita tidak lagi bisa bekerja ?

Siapa yang perduli dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja dalam sehari ? mungkin hanya segelintir orang. Sebagian besar orang tidak peduli dan tidak mau ambil pusing dengan berapa banyak waktu yang habiskan untuk bekerja, entah itu 6 jam seminggu atau 60 jam seminggu. Orang hanya peduli dengan hal-hal berharga yang bisa kita berikan untuknya.

Orang tidak peduli dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengerjakannya, mereka hanya peduli jika sesuatu itu berharga baginya. Apa kamu peduli berapa waktu yang kuhabiskan untuk menulis artikel ini ? misalnya kamu harus membayar dengan harga tertentu untuk bisa membaca artikel ini, dan aku membuat artikel ini dalam waktu 1 jam. Apa kamu mau membayar dua kali lipat jika aku mengerjakannya selama 2 jam ?

Orang yang pintar akan membangun sistem yang bisa menghasilkan income selama 24 jam, terutama passive income. Dalam hal ini contohnya adalah: membuat website atau blog, investasi atau menanam modal, membuat karya-karya kreatif yang menghasilkan royalti. Sistem seperti ini akan memberikan hal-hal yang berharga bagi orang lain, dan mengalirkan uang pada pembuatnya.

Contohnya penulis buku, pencipta lagu, pembuat film dan lain-lain. Berapa uang yang mereka hasilkan dari karya-karya yang mereka buat, tentu saja untuk membuatnya mereka harus bekerja. Tapi hanya beberapa waktu saja, setelah itu ? mereka tinggal menikmati hasilnya dari waktu ke waktu. Kan lebih enak jika kita bisa jalan-jalan, liburan, tapi tetap menghasilkan uang.

Jika kita lebih memilih mencari pekerjaan dan mendapat bayaran, tak masalah, itu pilihan kita sendiri. Atau kita lebih memilih hidup santai dari membuat sistem yang bisa menghasilkan sesuatu yang berharga bagi orang lain, dan memberikan penghasilan bagi kita sekalipun kita bekerja ataupun tidak. Mungkin saat ini kita belum tahu cara melakukannya, namun banyak sumber yang bisa kita jadikan bahan untuk mempelajari cara melakukannya.

Tidak ada orang yang terlahir dengan semua pengetahuan tentang bisniss, investasi dan cara menjalankannya. Mereka juga belajar dan mempelajarinya. Dan itu berarti kita juga bisa mempelajarinya, berapa lama waktu yang dibutuhkan ? itu bukan masalah. Karena waktu akan tetap berjalan, sekalipun kita hanya diam dan puas menjadi budak, atau berusaha menjadi tuan.

Pengalaman Terbatas
Kita biasanya berpikir, aku mencari kerja untuk mencari pengalaman. Ini sama halnya dengan jika kita berkata: aku main sepakbola, karena ingin mencari pengalaman bermain sepakbola. Kita mendapat pengalaman karena kita hidup, entah kita berkerja atau tidak. Pekerjaan hanya memberi kita pengalaman tentang pekerjaan tersebut, padahal sebenarnya kita mendapat pengalaman dari semua yang kita lakukan. Masalah yang kita hadapi dalam mencari pengalaman melalui pekerjaan adalah: kita hanya melakukan hal yang sama berulang-ulang. Kita hanya mendapat banyak pengalaman pada saat pertama bekerja, dan selanjutnya tidak banyak lagi yang bisa kita pelajari. Hal ini memaksa kita untuk melewatkan berbagai kesempatan berharga lainnya. Dan pengalaman terbatas yang kita dapatkan dari pekerjaan itu semakin lama akan semakin usang, coba kita tanyakan pada diri sendiri pengalaman apa yang kita dapatkan dari pekerjaan sekarang akan tetap berharga 10 – 20 tahun lagi.

Beresiko Tinggi
Banyak yang berpendapat, bahwa mencari pekerjaan dan bekerja pada orang lain adalah cara paling aman untuk mendapatkan uang, benarkah ? coba kita pikirkan. Dengan bekerja pada orang lain, berarti menempatkan diri kita pada posisi dimana orang lain yang menentukan sampai kapan kita bisa terus mendapatkan penghasilan. Dan orang lain bisa dengan mudah menutup jalan kita untuk mendapatkan penghasilan hanya dengan mengucapkan kata “Kau di pecat !!”.
Amankah itu ? apakah hanya mempunyai 1 jalan untuk mendapat penghasilan, lebih aman dari pada mempunyai 10 jalan untuk menghasilkan uang ? Ternyata ide mencari pekerjaan cara paling aman untuk mendapat penghasilan adalah konyol. Kita tidak bisa disebut aman, jika kita tidak mempunyai kekuasaan untuk mengontrol. Dan dengan bekerja pada orang lain berarti kita membiarkan diri kita di kendalikan oleh orang lain.

Mengemis Untuk Uang
JIka kita bekerja pada orang lain, maka pada saat kita ingin mendapatkan kenaikkan gaji, seringkali kita harus menghiba-hiba, meratap, bahkan mengemis. Bagaimana rasanya jika harus terus melakukan itu setiap kita menginginkan upah yang lebih baik ? Bukankah akan lebih baik jika kita bisa menentukan sendiri berapa pendapatan yang kita inginkan, tanpa harus meminta izin pada siapapun. Jika kita punya bisnis sendiri dan ketika seorang pelanggan berkata “tidak” saat kita menawarkan sesuatu, kita cukup berkata “baiklah… aku akan mencari orang lain yang mau”.

Pergaulan Terbatas
Kebanyakan orang hanya bergaul dengan orang-orang dalam lingkungan pekerjaannya saja, berkumpul dan bertemu hanya pada ruang lingkup yang terbatas. Bergaul hanya dengan orang-orang yang mempunyai profesi dan pekerjaan yang sama, hal ini sering disebabkan waktu, pengetahuan, dan penghasilan yang terbatas, hingga kit tidak mempunyai kesempatan untuk melihat sisi atau belahan dunia lain. Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita bisa memutuskan sendiri, dimana dan dengan siapa kita ingin bertemu.

Hilang Kebebasan
Butuh usaha yang besar untuk menjinakkan seorang manusia dan menjadikannya sebagai seorang pegawai. Yang pertama harus dilakukan adalah menjinakkan keinginannya untuk bebas. Caranya: dengan memberikan berbagai syarat dan aturan yang harus dipatuhi dan disetujui. Ini akan membuat seorang pegawai menjadi lebih patuh dan tunduk. Serta hukuman atau compensasi akan membuat mereka menjadi takut untuk melanggarnya.

Cara ini juga akan membuat pagawai berpikir bahwa mereka akan lebih aman jika mereka mengikuti dan menyetujui saja syarat yang diberikan tanpa harus banyak bertanya. Dan salah satu bagian dari cara untuk membuat pegawai menjadi patuh adalah dengan cara melatihnya, melatih cara mereka berpakaian, berbicara, bergerak dan seterusnya. Orang yang bebas akan berpikir bahwa satu-satunya aturan yang diperlukan yaitu: “menjadi pintar, menjadi baik, lakukan yang terbaik, dan lakukan yang kau suka”.

Jadi Pengecut
Dengan hilangnya keinginan untuk hidup bebas, cepat atau lambat kita akan kehilangan keberanian.Kita tidak lagi berani berkata dan berbuat yang menurut kita benar. Kita hanya ingin patuh dan mengikuti aturan yang sudah dibuat. Hanya masalah waktu sampai kitapun akan mengorbankan kejujuran, integritas, martabat, dan akhirnya keinginan untuk mendiri. Kita menjual kemanusiaan kita hanya untuk sebuah ilusi, dan ketakutan terbesar kita adalah mencari tahu akan jadi apa kita sebenarnya.

Inilah beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak mencari pekerjaan, bagaimana menurut kamu ? mungkin sebagian besar kita akan menyangkal semua ini. Apalagi jika kita sudah merasa nyaman dan aman dengan pekerjaan yang sekarang dijalani. Tapi coba kita pertimbangkan, jika memang semua alasan diatas tidak benar, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi emosi atau bereaksi.
Alasan-alasan diatas hanyalah sebagai pengingat hal-hal yang sudah kita ketahui, kita bisa menyangkal penjara yang selama ini mengukung kebebasan yang kita miliki. Jika hal-hal diatas membuat kita gerah, itu berarti pertanda bagus. Rasa itu akan mendorong kita untuk mencari kebenaran, dan berbuat sesuatu untuk memperbaikinya.

Lalu apa alternatif yang kita miliki ? alternatinya: pekerjaan yang kita butuhkan adalah pekerjaan yang bisa membuat kita bahagia, dan hidup sesuai dengan yang kita kehendaki tapi tetap bisa memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan. Bukan hidup dengan aturan yang dibuat oleh orang lain, dengan cara orang lain. Yang harus kita sadari bahwa kita mencari uang dengan cara memberikan sesuatu yang bernilai dan bukan dengan menjual waktu. Jadi kita harus mencari cara agar bisa menghasilkan sesuatu yang bisa berharga untuk dijual pada orang lain. Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan membuat atau memulai bisniss sendiri.

Apapun pekerjaan kita sekarang, carilah cara untuk bisa menghasilkan hal yang bernilai, dan menjualnya langsung pada orang yang memerlukannya. Memang diperlukan waktu untuk melakukan itu, tapi semua energi dan waktu yang kita investasikan untuk melakukannya, akan memberikan kita kebebasan yang memang seharusnya menjadi milik kita sendiri.

Dan tentu saja semua hal yang pernah kita pelajari dalam upaya melakukannya, bisa kita bagi pada orang lain. Semua pengalaman dan pengetahuan tersebut juga merupakan hal yang bernilai bagi orang lain, dan hal ini bisa kita jadikan sarana untuk menambah penghasilan. Jadi.. cari dan mulailah bisniss mu sendiri !!

Rabu, 13 Juli 2011

Surat Kecil Buat Tuhan

Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.  
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis......[dsus]



Surat kecil untuk Tuhan adalah salah satu novel yang diangkat berdasarkan kisah hidup Gita Sesa Wanda Cantika, seorang gadis belia yang harus berjuang melawan penyakit Kanker ganas yang menggerogotinya. Cerita ini mulanya hanya dapat dinikmati secara online melalui blog personal agnes davonar dan setelah dibaca lebih dari 350.000 pembaca online, kisah ini kemudian diangkat menjadi sebuah novel yang tak hanya memikat pembaca di tanah air tetapi juga mereka yang berada di Taiwan. Tak mau lama menunggu, Skylar pictures akan segera mengangkat novel yang telah memasuki cetakan ketujuh ini ke layar lebar.

Produser : Sarjono Sutrisno
Produksi : Skylar Pictures
Sutradara : Harris Nizam
Penulis : Agnes Davonar
Durasi Film : 100 menit

Pemain :
Alex Komang
Dinda Hauw
Esa Sigit
Ranty Purnamasari
Dwi Andika
Egi John Foreisythe
Sutradara : Harris Nizam
Penulis : Beby Hasibuan

Judul filmnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Bisa dibuktikan sendiri bener atau tidak, soalnya percaya ga percaya tuh film dari 2 hari lalu sejak 7 juli ditayangkan full semua pas show. Pihak 21 ampe kewalahan, ane cukup bangga dengan film Indonesia akhirnya dapat tempat di hati penontonnya. Ini membuktikan kalau Film INDONESIA ASAL BERKUALITAS DAN MAU BERUSAHA PASTI BISA DITERIMA DAN GA KALAH BERSAING DENGAN FILM HOLLYWOOD!
Menagislah….….!! Luar biasa….. Ini adalah Kisah inspiratif. Perjuangan gadis kanker yang berusaha hidup walau dia tau hidupnya tidak lama lagi.. Kisah ini layak ditonton, bukan promosi tapi emang kenyataannya sangat membuat kita menghargai kehidupan.

Untuk membuat film yang diangkat dari kisah nyata, bukan perkara mudah. Namun hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain dan juga sang sutradara, Harris Nizam. "Banyak pesan yang bisa dikasih ke orang dalam film ini, semangat untuk tidak mudah menyerah," ujar Harris saat kunjungannya ke kantor detikhot di Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2011). Selain Alex Komang dan Ranty Purnamasari, beberapa bintang di film SKUT kebanyakan masih berusia muda, dan minim pengalaman di dunia seni peran. Namun totalitas dan kemampuan akting para bintang muda tersebut tak perlu diragukan lagi.

Dinda Hauw yang memerankan karakter Keke bahkan harus mencukur habis rambut indahnya. Hal tersebut sempat ditentang orangtua Dinda, namun dara kelahiran 14 November 1996 itu sudah berkomitmen untuk total dalam memerankan karakternya. "Mama sempat shock dan ngelarang, tapi karena aku emang udah mutusin, akhirnya ngebolehin," tutur Dinda yang rambut indahnya sudah mulai tumbuh kembali.

Beberapa pihak juga sempat menuding film SKUT memiliki kemiripan dengan 'Letters to God'. Namun dengan tegas Harris membantah semua tudingan tersebut. "Kalau orang yang sudah tahu jalan ceritanya, pasti tidak akan membandingkan, karena sangat berbeda. Buat kita sayang sekali untuk mengubah judul 'Surat Kecil untuk Tuhan' karena sudah sangat pas sekali," jelasnya.

Film produksi Skylar Pictures itu diangkat dari novel karya Agnes Davonar dengan judul yang sama. Ia adalah penulis yang mendapat penghargaan The Best Inspirational Blogger dalam Olitopone detik.com

JAKARTA, TRIBUN - Baru seminggu ditayangkan di seluruh bioskop, penjualan tiket Film Surat Kecil Untuk Tuhan (SKUT) menunjukkan respon yang luar biasa. Tiket film tersebut langsung laris manis.
Ian, pengamat perfilman menjelaskan kalau film yang menceritakan akan perjuangan seorang anak remaja Gita Sesa Wanda Cantika dalam melawan kanker ganas yang menggerogotinya tersebut sampai mengalami kehabisan tiket untuk film tersebut. Bahkan dihari pertama penayangan film SKUT saja jumlah penontonya langsung mencapai 50 ribu yang dilihat dari penjualan tiket.

"Mungkin saja masyarakat Indonesia saat ini tahu mana film yang bagus dan berkualitas serta jauh dari moment hantu dan setan-setanan," terang Ian yang ditemui di XXI Blok M Square saat press screening film Shelter, Jum'at (8/7/2011). Selain itu, moment yang sangat tepat juga menjadi penentu film SKUT langsung diserbu penonton, dimana film SKUT dilepas ke pasaran bertepatan dengan musim liburan sekolah."Bisa juga seperti itu, moment juga berpengaruh," terangnya.
Dini, warga Jakarta mengatakan bahwa hal itu bisa saja terjadi mengingat saat ini masyarakat butuh film bagus dan berkualitas.
"Orang Indonesia suka akan film-film yang sedih-sedih namun jalan ceritanya jelas dan bagus," ujar Dini

Cuplikan Foto-Foto nya :



Kisahnya sangat membuat kita terharu dan dapat ikut merasakan apa yang terjadi di film itu. Film ini sudah diputar di bioskop-bioskop terdekat sejak tanggal 7 Juli. Dijamin, film ini adalah salah 1 film terbaik yang pernah ada di Indonesia.

Hidup...

Yakinlah pada diri sendiri, hidup seperti roda yang berputar kadang ada di atas kadang ada di bawah. itulah perjalanan hidup mau tidak mau harus tetap di jalani. Dan berhati-hatilah ketika berbicara, hidup tidak boleh menyakiti orang lain dengan perkataanmu dan janganlah suka membangga-banggakan diri sendiri,  karena orang yang mendengar tetap menganggap kamu itu orang biasa walau didepan kamu yang mendengar tetap mengiyakan pembicaraanmu, tapi di dalam hati mereka kamu akan di anggap ego dan sombong.
Ada yang mengatakan dunia ini luas dan ada yang mengatakan dunia ini sempit, itu terserah siapa yang mengatakan tapi hidup harus tetap berguna dan bisa bergaul dengan siapapun tanpa mebedakan latar belakang orang tersebut.

Jutaan manusia yang ada di planet bumi ini bermacam-macam sifat manusia, maka hati-hatilah dalam menjalani hidup ini, jangan mudah menaykiti orang lain, jangan mudah menyingung perasaan orang lain, berusahalah untuk selalu bersikap ramah walaupun berat melakukannya pada orang yang telah menyakiti dirimu.

Terkadang ada manusia yang suka dengan gayamu terkadang ada yang tidak. Apapun itu, ini adalah warna warni dalam kehidupan manusia tetapi tetaplah percaya pada diri sendiri. Inilah dirimu berusahalah tetap tegar dalam menajalani hidup ini. Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang dapat membahagiakan orang lain dan saling membahagiakan sesama manusia. Itulah Hidup……

[dsus]


Selasa, 12 Juli 2011

RENUNGAN TENTANG PROSES KEMATIAN

Kematian itu sendiri bisa disebabkan sakit, kecelakaan atau sebab lainnya secara mendadak atau tiba-tiba . Pada kondisi normal seperti orang sakit biasanya seseorang akan menunjukkan gejala yang mengindikasikan bahwa hidupnya akan segera berakhir beberapa minggu lagi seperti yang dikutip dari salah satu sumber Mayoclinicb bahwa tanda-tanda kematian manusia itu ada beberapa tanda diantaranya:
  1. Merasa gelisah. Seseorang akan merasa tidak tenang serta sulit tidur, selain itu dia akan seringkali mengganti posisi saat tidur karena perasaan gelisah.
  2. Menarik diri. Seseorang tidak ingin lagi terlibat dalam aktifitas sosial ataupun melakukan kegiatan favoritnya.
  3. Sering mengantuk. Seseorang akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk tidur.
  4. Kehilangan nafsu makan. Seseorang hanya akan makan dan minum dalam jumlah sedikit dan berbeda dari biasanya.
  5. Mengalami jeda saat bernapas. Hal ini biasanya terjadi saat seseorang sedang tidur ataupun terjaga.
  6. 6. Luka yang sulit sembuh. Luka atau infeksi yang dialami mengalami kesulitan untuk disembuhkan.
  7. Pembengkakan pada bagian tubuh. Pada beberapa orang terjadi pembengkakan di daerah tangan, kaki atau bagian tubuh lain.

Proses sekarat mulai terjadi ketika tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Sel yang berbeda akan memiliki kecepatan kematian yang berbeda pula, sehingga panjangnya proses seseorang sekarat tergantung pada sel-sel yang kekurangan oksigen ini. Sedangkan otak memerlukan oksigen dalam jumlah yang besar dan hanya memiliki sedikit oksigen cadangan. Sehingga jika asupan oksigen berkurang maka akan mengakibatkan kematian sel dalam waktu 3-7 menit saja.

Beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang sekarat adalah lebih banyak tidur, hal ini untuk menghemat energi yang tinggal tersisa sedikit di tubuh. Ketika energi tersebut hilang, maka seseorang akan kehilangan nafsu untuk makan ataupun minum. Proses menelan pun menjadi sulit dan mulut akan sangat kering, sehingga memaksa orang yang sekarat untuk minum akan membuatnya tersedak. Selain itu orang yang sekarat akan kehilangan kontrol pada kandung kemih dan ususnya, sehingga seringkali terlihat mengompol. Orang akan merasa bingung, gelisah dan tidak tenang karena tidak dapat bernapas dengan teratur. Ketika sel- sel di dalam tubuh mulai kehilangan sambungan, maka akan mengalami kejang otot.


Kematian akan semakin mendekat jika kaki dan tangan terasa dingin dan mulai sedikit membiru akibat terhentinya aliran darah ke daerah tersebut. Tapi lama kelamaan akan semakin menyebar ke bagian tubuh atas seperti lengan, bibir dan kuku. Selain itu orang menjadi tidak responsif, meskipun matanya terbuka tapi memiliki tatapan mata kosong atau tidak melihat sekelilingnya.


Setelah itu pernapasan akan terhenti sama sekali dan diikuti oleh berhentinya kerja jantung, maka secara klinis orang tersebut sudah mati karena tidak ada sirkulasi dan cadangan oksigen untuk bisa mencapai sel-sel di tubuh. Namun kematian klinis bisa dikembalikan melalui proses CPR (napas bantuan), transfusi atau ventilator. Tapi jika 4-6 menit setelah kematian klinis tidak ada perubahan, maka itu artinya jantung sudah tidak bisa bekerja lagi.

Karena jantung sudah tidak bekerja, maka secara otomatis aliran darah dan oksigen ke seluruh tubuh dan otak juga akan terhenti. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.

INILAH PROSES KEMATIAN DAN HANCURNYA TUBUH KITA
0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.
1 Menit
Darah berubah warna n otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.
3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.
4 – 5 Menit
Pupil mata membesar n berselaput. Bola mata mengkerut krn kehilangan tekanan darah.
7 – 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.
1 – 4 Jam
Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku n rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.
4 – 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.
6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.
8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.
24 – 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.
36 – 48 Jam
Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.
3 – 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.
8 – 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.
Beberapa Minggu
Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.
Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.
Satu Tahun
Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa yg mau disombongkan orang sebenarnya?


RENUNGKAN : Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini. Jadilah manusia sebiasanya dan jangan merpersulit hidup orang lain.

Sabtu, 09 Juli 2011

Belajar Dari Penjual Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah shalat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atasmeja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.


Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. 

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya kian memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan kedua tangannya. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."
"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat?
Pembaca, Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"

"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

Pesan:Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa, merasa hidup ini tidak adil. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling baik untuk hamba-Nya. Sungguh, semua rencana Allah adalah SEMPURNA.

Jumat, 10 Juni 2011

Foto-foto luar biasa proses kejadian seorang manusia

Berikut ini beberapa seleksi fotografer Swedia bernama Lennart Nilsson. Dia terkenal dengan foto2 in vivo embrio manusia dan subjek kedokteran lainnya yang dulu dianggap tidak bisa diabadikan lewat foto. Dia menggunakan sebuah endoskop untuk membuat gambar menakjubkan ini! Dalam seri foto ini, dia menguak semua rahasia bagaimana kehidupan berawal, Bukti keagungan Tuhan. Ini bukan ilustrasi bukan pula hasil ilustrasi.. This is real!!!
Perjalanan panjang sperma menuju sel telur:

Sperma yang telah bersusah payah berenang siap membuahi sel telur..

Dinding rahim yang baru siap dibuahi:

Sel telur yang dibuahi menuju dinding rahim:

Embrio mulai terbentuk, disini yang terlihat adalah awal pembentukan kepala:
Sudah mulai berbentuk:



Manusia sempurna, yang siap berjuang melawan hidup...


Rabu, 04 Mei 2011

Tersenyumlah

sudahkah anda senyum untuk hari ini?
Senyum yang tulus, datang dari hati yang tulus 

Suatu senyum yang ikhlas dan menceriakan adalah suatu ibadah. Tersenyumlah! karena senyum itu tidak mahal.
Senyum terjadi hanya sekejap, tetapi kenangannya kadang berlangsung selamanya.






1. Senyum membuat Anda lebih menarik.

Orang yg byk tersenyum memiliki daya tarik.
Orang yg suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yg selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yg byk tersenyum memiliki byk teman.
2. Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum.
Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik.
Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah.
3. Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang.
Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
4. Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah.
Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih.
Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum.
Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.
5. Senyum meningkatkan imunitas
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik.
Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks.
Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.
6. Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa.
Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.
7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami.
Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin.
Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit.
8. Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot .
Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift.
Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.
9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses
Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan.
Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien.
Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.
10. Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah.
Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik".
Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah.

Kebahagiaan

Banyak cara untuk bisa merasakan kebahagiaan. Anda bisa merasa bahagia ketika keinginan dan cita-cita Anda terpenuhi. Bahagia ketika Anda sedang berada dalam kondisi sehat dan tidak diberikan sakit oleh Yang Maha Kuasa. Bahagia ketika kebutuhan Anda dan keluarga bisa terpenuhi. Bahagia ketika pasangan Anda begitu mencintai dan menyayangi Anda. Dan masih banyak lagi hal yang bisa membawa kebahagiaan untuk Anda.

Namun demikian, tak jarang kita temui orang-orang yang dilimpahi sekian banyak alasan untuk bisa bahagia, tetapi nyatanya ia tidak bisa merasakan kebahagiaan. Mengapa demikian?


Ada sebuah kalimat bijak yang patut kita renungkan, 
“Bukan bahagia yang membuat Anda bersyukur, melainkan bersyukur yang membuat Anda bahagia.”


Dalam hidup ini, pasti ada yang akan Anda miliki, dan ada pula yang cukup Anda lihat sebagai milik orang lain. Ada yang datang, dan ada pula yang pergi. 
Dalam hidup ini, pasti Anda akan berhasil pada satu dan beberapa hal, tapi boleh jadi Anda gagal dalam satu dan beberapa hal.

Dalam hidup ini, Anda akan tertawa dan Anda juga akan menangis. Maka bagaimana Anda memaknai hidup, terkadang itulah yang justru menipu Anda.

Pertama, Anda membanding-bandingkan hidup Anda dengan orang lain sehingga yang muncul adalah “rumput tetangga terlihat lebih hijau” di mata Anda. Ini menyebabkan Anda tidak henti-hentinya ngiler melihat kehidupan orang lain. Sehingga, Anda pun merasa kehidupan Anda saat ini tidak lagi menyenangkan dan membahagiakan.

Kedua, yang membuat Anda tak bahagia adalah karena Anda sering berandai-andai tentang masa lalu. Misalnya, “Jika saya dulu …”. Beragam pilihan hidup yang telah Anda ambil disesali, hidup Anda pun lebih sering diisi dengan “nostalgia” masa lalu yang jelas-jelas tak mungkin akan kembali. Anda pun menjadi setengah hati menjalani kehidupan Anda saat ini.

Sejatinya setiap orang diberikan takaran waktu yang sama setiap harinya: 24 jam! Itulah waktu yang saya jalani dan waktu yang sama itu pula yang Anda jalani. Semoga di waktu yang terus berjalan dan tidak akan kembali ini, kita bisa melewatinya dengan sibuk mensyukuri segala hal yang kita alami, serta sibuk memperkaya arti kehadiran diri kita di muka bumi.
Mari kita syukuri apa yang Anda miliki saat ini… Bila tidak, maka bersiaplah untuk menderita…

Jumat, 29 April 2011

Kesetiaan

Jangan Bilang SETIA Kalau belum lewati ini!!

Jangan Perrnah Merasa Mempunyai “HUBUNGAN yang SEMPURNA" (HUBUNGAN yang SEHAT) ”Jika belum ada “KEJUJURAN“
KEJUJURAN :
Alangkah bermakna hidup ini, jika kita bisa saling jujur, tidak ada kebohongan dan kepalsuan, dan akhirnya kita bisa belajar menghargai perbedaan. Bukan cinta untuk jujur tapi jujur untuk cinta. Kejujuran yang didasari dengan KEIKHLASAN dan Terima apa adanya.Jika KEJUJURAN Sudah dilalui maka Akan Membawa ke Sikap Saling ….
KETERBUKAAN :
Untuk menjaga hubungan Harus selalu berusaha terbuka pada pasangan. Saling terbuka satu sama lain, nggak ada yang ditutup-tutupin, jangan negative thinking sama pasangan. Jika Sudah dilalui Maka Akan Menjadikan Keduanya Saling ….

PERHATIAN :
Betapa indahnya dan bahagianya hubungan itu bila kita selalu saling memberi perhatian satu sama lain. Jadilah penghibur baginyaJika Sudah dilalui Maka Akan Membawa Sikap Saling ….
PENGERTIAN :
Dengan begitu akan tumbuh perasaan dan saling pengertian yang dalam, sehingga dapat dipahami mana persamaan dan mana perbedaan. Dengan begitu, keduanya akan dapat mengambil sikap lebih hati-hati dan rasional, serta tidak melukai satu sama lainnya. Jika Sudah dilalui Akan Membawa Sikap Saling ….
KEPERCAYAAN :
Kenyamanan hidup bersama pasangn bisa diperoleh bila tercipta rasa saling percaya diantara keduanya. Tanpa rasa percaya, Tiap Pasangn tidak akan merasakan ketenangan batin. Yang akan muncul adalah sikap curiga terus menerus yang akhirnya meretakkan Hubungan itu sendiri. Jangan takut kecewa dan Selalu ada harapan. Jika Sudah dilalui dan Selama Dijunjung Tinggi Kepercayaan itu maka Sudah Tentu Akan Timbul Sikap Saling ….

KESETIAAN :
Kesetiaan bukan sekedar di saat suka namun disaat Duka. Apapun seindah dan sesulit apapun itu. Padukan perkataan dengan sikap yang menunjukkan bahwa Kita tetap setia kepada cinta pasangan Anda. Semua itu membuktikan dalam hubungan terdapat kejujuran dan kepercayaan satu sama lain,dan dengan demikian Anda berdua akan sama-sama menikmati buah kesetiaan tanpa perlu khawatir dengan adanya kebohongan.
Semoga kita semua sudah bisa ngelewatin sampai tahap ini
Jangan melihat apa yang sudah Dia lakukan ke kita, tapi Lihat apa yang sudah kita lakukan buat Dia, karena itu akan menjadikan kita sebagai kenangan “TERBAIK” buat dia. Ada Rahasia Tuhan dibalik Rahasia-NYA
Orang yang meninggalkn “Kesan Baik” akan selalu di ingat/dikenang. Membangun Hubungan Lebih Sulit ketimbang Memperbaiki,
tapi Memperbaiki juga sulit kalau terlalu banyak perencanaan.



JANJI TUHAN:
“TIAP MAKHLUK AKAN BERPASANG-PASANGANAN” Intinya
“Manusia hanya bisa BERENCANA dan BERUSAHA Segala sesuatunya Tuhan yg mengatur”
Hidup Di Dunia Bukan untuk Mencari Orang yang“SEMPURNA”
untuk dicintai.. Melainkan untuk belajar
mencintai orang yang “TIDAK SEMPURNA”
dengan cara yang “SEMPURNA”

Senin, 21 Maret 2011

Kebebasan Anak

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: "Apa yang kamu inginkan ?"

Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan 
"Aku ingin ibuku :...." Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana
: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. 

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan
"Aku ingin Ayahku ...." Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu". Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua. Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..." Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya"

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan
"Aku ingin ayahku tidak : .." Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya...

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bias menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.


Ketika Psikolog itu menuliskan
"Aku ingin ibuku berbicara tentang ....." Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.


Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya.
Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku"... Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahannya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan
"Aku ingin ibuku setiap hari ....." Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.


Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum".
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan 
"Aku ingin ibuku memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan . Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang... Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.


Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi. "Aku ingin ayahku memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".


Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.