Tampilkan postingan dengan label Familia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Familia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

Cara Tepat Untuk Memuji Anak

Kebanyakan orang tua pasti senang memuji dan membanggakan anaknya. Namun, beberapa pujian atau cara memuji yg diberikan orang tua terkadang kurang efektif dan kurang tepat sasaran. Bagaimana sih pujian yang tepat itu, agar berdampak positif bagi si kecil dan bukan sebaliknya? Ikuti beberapa petunjuk di bawah ini.
Harus Lebih Spesifik
Anak menggambar sebuah bunga. Gambar itu bagus sehingga Anda merasa perlu memujinya. Tetapi, jangan katakan, "Gambar itu bagus!". Perhatikan dulu gambarnya dengan cermat. Pilih bagian terbaik dari gambar itu. Bunganya yang berwarna merah, misalnya. Maka katakan, "Bunganya yang merah bagus sekali. Mama suka!"
 Kalimat Anda akan memicunya untuk menggambar lebih baik, sehingga Anda tidak hanya memuji bunga yang merah saja, tetapi juga daunnya, bunga yang kuning dan semua yang ada di gambar itu.
Di Depan Orang Lain
Karena semua orang menyukai pujian, ada baiknya pujian pada si kecil juga tidak hanya diberikan saat dia sendirian. Berikan juga ketika dia sedang bersama yang lain, misalnya ayahnya, gurunya, om dan tantenya. Tetapi gunakan cara yang tidak terlalu langsung. Contohnya, "Ayah sudah melihat gambarmu yang bagus tadi? Coba tunjukkan, pasti komentar Ayah akan sama dengan komentar Ibu tadi!"
Iringi Dengan Perhatian
Agar pujian Anda membuat si kecil lebih termotivasi, barengi dengan perhatian, jadi jangan sekedar memuji. Misalnya, si kecil berhasil mengayuh sepedanya tanpa jatuh. Pujilah! "Bagus! Berarti anak Mama sudah besar ya!"
Hari berikutnya, saat melihat dia bersiap-siap dengan sepedanya, luangkan waktu Anda untuk melihat sendiri kemampuannya. Di tengah dia bersepeda, acungkan kedua jempol Anda sambil memujinya, sekali lagi. Maka si kecil akan semakin bersemangat.

Hargai Usahanya
Saat anak berhasil menuliskan namanya sendiri, meski belum sempurna, Anda perlu memberikan penghargaan yang lebih dari sekedar kata pujian. Misalnya, "Ayo kita tempel di lemari es. Biar semua orang tahu kalau anak Mama sudah pintar menulis!". Kesediaan Anda memamerkan karyanya itu kepada yang lain, akan membuat si kecil lebih bersemangat dalam meningkatkan kemampuan tulisnya.

Pilih Positifnya
Si kecil mulai bisa memakai celana sendiri, tetapi belum bisa mengenakan kaosnya. Maka pujilah kemampuannya mengenakan celana sendiri itu saja. Jangan singgung-singgung soal ketidakmampuannya memakai kaos sendiri.
Atau katakanlah, "Pintarnya Anak Ibu, sudah bisa pakai celana sendiri. Jangan lupa kaosnya ya!". Ini lebih baik daripada, "Kenapa tidak sekalian dengan kaosnya?" Kalimat yang terakhir ini akan membuatnya merasa 'kecil' dan belum layak dipuji. Kasihan kan?

Pujian Tanpa Syarat
Pujian yang baik adalah yang diberikan tanpa embel-embel, tanpa syarat. Jangan memuji dengan kalimat, "Mama akan lebih bangga kalau kamu juga bisa pakai kaos sendiri. Biar nggak Cuma pakai celananya saja."

Kamis, 21 Juli 2011

Membuat Pribadi Yang Mencipta Bukan Membeli

Jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Sasarannya bukan pada memicu anak berbisnis atau menjual sesuatu. Namun lebih kepada pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi. Cara sederhana yang bisa dibiasakan orangtua adalah ajak anak mencipta, membuat sesuatu, bukan membeli barang yang diinginkan.
Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan orangtua terbiasa mengajak anak membeli sesuatu saat ke mal misalnya. Orangtua merasa perlu menyenangkan hati anak karena terlalu sibuk bekerja. Kecenderungan yang terjadi adalah, anak dihadapkan pada berbagai macam kesenangan atau barang.
"Orangtua terbiasa menawarkan anak untuk bebas membeli apa saja yang mereka suka, sebagai bentuk penggantian atas rasa bersalahnya karena kesibukan sehari-hari. Padahal, anak perlu diajak untuk berpikir kreatif, berinisiatif, dengan mengajukan pertanyaan ke mereka seperti, 'Ayo, kita mau membuat apa?'" jelas Arief kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu.
Kebiasaan menciptakan sesuatu inilah yang melandasi cara berpikir anak. Pola pikir seperti ini bisa dilatih, dan butuh peran orangtua sebagai pendukungnya. Dengan semangat mencipta, anak tak tumbuh menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk menghidupi dirinya. Orientasi anak tak seperti kebanyakan orang, sekolah, lalu mencari pekerjaan untuk menafkahi diri. Namun yang akan terjadi adalah sebaliknya, anak akan berpikir kreatif membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain.
Nah, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ini, Arief menyebutkan sejumlah syarat. Ia menjelaskan, anak perlu memahami bahwa hidup punya aturan dan etiket. "Aturan perlu dibarengi dengan dorongan dari orangtua," lanjutnya. Mengajak anak untuk membuat sesuatu daripada membeli adalah juga bentuk etiket dan aturan. Pesannya, untuk mendapatkan sesuatu, setiap orang perlu berusaha, tidak menerima begitu saja dengan mudahnya.
Syarat lain yang juga penting, kata Arief, adalah dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki perilaku positif. Sikap positif perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Dengan kepribadian positif inilah jiwa kewirausahaan tertanam dalam diri anak.
Kewirausahaan juga bisa ditanamkan melalui kebiasaan. Kebiasaan mencipta tadi bisa menjadi cara yang dibiasakan sejak kecil. Syarat menanamkan jiwa kewirausahaan lainnya adalah juga pengetahuan dan keterampilan. "Pengetahuan juga diperlukan namun tak perlu banyak. Banyak pengetahuan namun tak punya etiket juga tak ada gunanya," jelas Arief.
Jiwa kewirausahaan yang tertanam dalam diri ini memiliki pengaruh besar dalam hidup seseorang. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan, tangguh menjalani proses, pantang menyerah. "Jika pun gagal dalam hidup ia tak mudah menyerah,"

Kamis, 07 Juli 2011

Hal yang Harus Ayah Ajarkan pada Anak Perempuan

Pengalaman sama penting untuk anak, bahwa seorang ayah memainkan peran unik dalam kehidupan putrinya. Tidak hanya memberinya rasa aman dan stabilitas, tapi ia juga dapat membimbing melalui tantangan kehidupan "Ayah mengajarkan begitu banyak kepada anak-anaknya tidak selalu dilakukan dengan duduk dan berbicara kepada mereka, tetapi juga dengan perilaku agar anak-anaknya mengikuti," kata Matthew Weinshenker, PhD, asisten profesor sosiologi di Universitas Fordham.

1. Didik ia Menjadi Pribadi yang Terbuka, Tangguh, Jujur dan Dapat Dipercaya
Untuk menghilangkan stereotip bahwa perempuan adalah pribadi yang lemah dan tertutup, penting bagi gadis muda untuk mampu mengekspresikan diri dan menghadapi masalah dengan bijaksana, kata Linda Nielsen, Edd, psikolog pendidikan remaja di Wake Forest University di Winston-Salem, North Carolina, dan penulis Between Fathers and Daughters. Meskipun hal ini tidak berarti memanjakan, penting bahwa ketika ada konflik, ayah terlibat dengan putrinya, bukan ibu sebagai perantara. "[Seorang gadis] harus benar-benar bisa mengutarakan maksud dari sesuatu hal kepada ayahnya, tanpa bantuan ibu. Jika ia tidak dapat melakukan dengan ayahnya, dia tidak akan mampu melakukannya dengan atasan laki-laki, pacar, semua akan dipendam, "catatan Dr Nielsen. " Seorang ayah harus mau mendengarkan dan memaafkan kesalahan putrinya daripada menghukum berat dia untuk kesalahan itu. Ia juga dapat memujinya untuk mengekspresikan dirinya sendiri dengan jujur ​​dan tegas," tambah Dr Nielsen.

2. Beri Contoh Hubungan Yang Sehat Dan Respek
"Pepatah lama mengatakan:" Salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan untuk anak-anak anda adalah menyayangi ibu mereka, '"kata Dr Weinshenker. "Hubungan yang baik, hormat dan cinta kepada pasangan Anda memiliki efek yang penting pada anak-anak." Cara lain seorang ayah bisa membantu putrinya membangun hubungan yang kuat di masa depan adalah dengan mengajar dia untuk menjadi dirinya sendiri, kata Dr Nielsen, dan membuat pernyataan-pernyataan seperti : "Jangan mengubah diri Anda sendiri seperti bunglon untuk mencoba sesuai selera pria Anda" dan "Sembunyikan setiap kekurangan, Anda hanya menjadi diri sendiri". Akhirnya, ayah harus secara langsung berbicara dengan anak perempuan mereka . "Anda harus mengajarinya berkomunikasi tegas dengan Anda karena hal itu akan memberi cara belajar untuk berkomunikasi dengan semua pria dalam hidupnya," tambah Dr Nielsen. Perlakukan juga orang-orang yang bekerja pada anda di rumah, seperti pembantu rumah tangga, sopir atau lainnya, dengan respek, meskipun Anda seorang majikan, sehingga anak-anak juga belajar untuk selalu menghargai orang lain, terutama yang lebih tua.

3. Upaya Untuk Sukses
Salah satu tantangan terbesar dalam hidup dapat mencari tahu apa yang Anda inginkan dan kemudian memiliki keberanian untuk melakukan setelah itu. Seorang ayah bisa membantu putrinya dengan memberi dia alat untuk melakukan hal itu. "Pertama Anda harus membantunya mencari tahu apa mimpi-mimpinya, maka Anda harus memberikan landasan untuk mencapai setelah mereka memimpikannya," kata Bernard Percy, mantan seorang pendidik sekolah umum di New York City dan Los Angeles dan penulis Moments of Astonishment—On Becoming a Better Dad. 
Dan itu memberi kesempatan untuk berhasil sehingga dia memiliki keyakinan bahwa dia bisa melakukannya. "Sangat penting untuk menemukan dan menciptakan tantangan yang tepat untuk anak Anda. Ketika mereka mengatasi tantangan yang tepat untuk diri mereka sendiri, mereka akan membuat peningkatan kemampuan secara kreatif dalam memecahkan masalah. Individu berkembang dengan adanya lingkungan yang menantang." Misalnya, jika anak remaja Anda telah menetapkan tujuan untuk memiliki kendaraan pribadi, membantunya mencapai tujuan ini agar dirinya sendiri mampu menabung atau mencari kerja paruh waktu agar dapat mencapai tujuan itu. Anda boleh menetapkan tujuan yang tinggi untuk anak-anak Anda tetapi dapat dicapai, sehingga mereka merasa hasil dari kerja keras dan kepercayaan diri yang berasal dari keberhasilan mereka sendiri.

4. Jadilah Mandiri
Meskipun sulit bagi orangtua untuk tidak menjemput anak-anak mereka setiap kali mereka jatuh, kadang-kadang seorang ayah berlaku merugikan putrinya dengan menyerah dari masalah terutama ketika berhubungan dengan uang. "Anda harus mengajari putri Anda mandiri secara finansial. Dia tidak membutuhkan uang seorang pria untuk apa pun. Dia tidak perlu meningkatkan statusnya, dan dia tidak perlu memilih pria dengan uang yang banyak daripada pria paling peduli, "kata Dr Nielsen. "Jadi berhenti bertingkah seperti mesin ATM nya. Anda tidak membantunya, anda menyakitinya."

5. Perawatan Mobil Bukan Hanya Dominasi Laki-Laki.
Ayah sering berfungsi ganda sebagai instruktur mengemudi selama masa remaja, tetapi pelajaran seharusnya tidak berhenti di situ. Mengetahui bagaimana merawat mobil adalah sama pentingnya dengan belajar bagaimana seseorang mengemudi. Butch Barclay, pemilik tiga pusat layanan Jiffy Lube di Little Rock, Arkansas, menyarankan mengajari mengemudi ke sebuah pompa bensin untuk pelajaran tentang tekanan ban. "Tunjukkan di mana dapat menemukan tingkat tekanan yang tepat dalam buku manual pemilik, bagaimana untuk memeriksa tekanan pada ban dan yang paling penting, menunjukkan bagaimana menyesuaikan tekanan udara jika tidak di tingkat yang tepat," katanya.
Pelajaran penting lainnya: mencatat dimana antibeku, minyak dan cairan pencuci kaca depan berada serta bagaimana untuk memeriksa dan mengisi ulang, penjelasan tentang peringatan indikator dashboard; dan cara mengganti ban yang kempes. Tidak hanya akan mengajarkan bahwa dia bisa melakukan apa pun anak laki-laki bisa lakukan, "dia akan belajar merawat sesuatu dengan benar serta membantu menjaga kinerja dan bermanfaat. Dan bertanggung jawab atas pemeliharaan kendaraan, dia akan mengambil berbagai tanggung jawab yang akan mengajarkan padanya tentang persiapan dan memecahkan masalah ".

6. Terima Tanggung Jawab Ketika Anda Salah.
Ini bisa menjadi sulit, bahkan bagi orang dewasa, karena memerlukan bukan hanya mengakui anda salah, tapi juga mengoreksi tindakan Anda. Sebuah cara yang bagus untuk contoh penerimaan semacam ini adalah mempraktekkan apa yang Anda sampaikan. "Jika dia melihat Anda bertindak dengan integritas, itu salah satu refleksi besar anak Anda harus melihatnya," kata Percy, catatan ketika putrinya datang kepadanya dengan masalah, ia tidak memberi mereka solusi . Sebaliknya, ia membantu mereka mencari tahu di mana mereka berbuat salah sehingga mereka bisa menemukan solusi mereka sendiri. 
Memungkinkan dirinya untuk menerima tanggung jawab atas sebuah kesalahan dengan mendorong dia memperbaikinya sendiri, bukannya menyembunyikan dalam-dalam dan memecahkan masalah, membantu dirinya mecari sendiri hal-hal baik dan buruk yang terjadi di sepanjang jalan kehidupan.

7. Kesempurnaan 
Adalah sebuah mitos, namun tetaplah melakukan yang terbaik dengan belajar dari kesalahan sebelumnya dengan begitu banyak tekanan untuk memiliki tubuh yang sempurna, karir yang sempurna dan keluarga yang sempurna, tak heran perempuan merasa lebih kewalahan daripada sebelumnya dan cenderung menjadi stress. Ketika putrinya masih muda, seorang ayah harus memberitahu dia sharing kehidupan, cerita tentang ketidaksempurnaan ayah, bahwa ayah telah membuat kesalahan, dan hal-hal yang ingin dia lakukan waktu seusia sang putri, namun belum dilakukannya, atau seharusnya dilakukan begini baru lebih baik, "kata Dr Nielsen. 
"Kedua, berbicara secara terbuka tentang tekanan terhadap perempuan dan laki-laki untuk menjadi sempurna agar dicintai. Pria, misalnya, sama seperti wanita juga memiliki tekanan dari sekelilingnya, seperti mencari pendapatan besar, bekerja 60 jam seminggu untuk memperoleh pendapatan, dan kemudian menjadi seorang suami yang romantis dan ayah pelindung di waktu 'luang' mereka"

8. Cinta Sejati Tidak Bersyarat.
Sementara melimpahi anak dengan hadiah dan kasih sayang mungkin merasa tepat di saat ini, ada ekspresi lain dari kasih yang lebih baik untuk membantu dia nyaman dalam hidup. "Ini kombinasi dari dukungan dan tantangan," kata Dr Weinshenker. "Doronglah anak Anda untuk menjadi yang terbaik, tetapi pada saat yang sama membuat kejelasan bahwa Anda ada untuk mereka." Sebuah cara penting untuk melakukan ini adalah seorang ayah memberikan waktu dan perhatian, demikian Dr Weinshenker, apakah itu berarti mendengarkan bagaimana harinya, hadir di sebuah acara pentingnya atau selalu makan malam di rumah. Sayang fisik juga penting. Dr. Weinshenker selalu memberikan pelukan besarnya kepada sang putri saat ia sedang menghadapi masalah.

Jumat, 18 Februari 2011

Anak Perempuan

Dengan keunikannya, anak perempuan juga mudah mengambil hati orangtuanya. Entah dengan melakukan kontak mata dengan Anda sejak ia lahir, atau mengucapkan kata "MAMA" lebih cepat, kelak mereka juga lebih mampu berkomunikasi dengan Anda. Anak perempuan memang akan menghabiskan lebih banyak biaya untuk mendukung penampilannya, atau akan merepotkan Anda dalam urusan menghadapi menstruasi pertamanya, atau dalam mengatasi mood swing-nya. Toh menurut Anita Sethi, PhD, peneliti di Child and Family Policy Center di New York University, anak perempuan memiliki karakteristik lain yang tak kalah istimewa.
  1. Mereka lebih pintar meniru. Ketika usianya baru tiga jam, bayi perempuan sudah bisa meniru, sebagai awal dari caranya berinteraksi. Menurut sebuah studi, bayi perempuan yang baru lahir lebih mampu meniru gerakan-gerakan jari daripada bayi laki-laki. Pada usia batita, anak perempuan juga lebih pintar daripada anak laki-laki dalam meniru, misalnya berpura-pura mengasuh bayi. Namun kemampuan mereka dalam berperilaku yang tidak membutuhkan interaksi, seperti berpura-pura mengendara mobil atau menyiram tanaman, tidak berbeda dari anak laki-laki.
  2. Tangan mereka lebih cekatan. Bayi perempuan mengungguli bayi laki-laki dalam melakukan tugas-tugas motorik halusnya, dan hal ini akan tetap mereka kuasai hingga memasuki kelompok bermain (preschool). Mereka lebih cepat dalam menguasai mainan, menggunakan peralatan makannya, bahkan mampu menulis lebih cepat (dan lebih rapi).
  3. Mereka pendengar yang baik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak perempuan lebih mampu membiasakan dengan suara manusia, dan tampaknya lebih peka terhadap suara manusia daripada suara benda-benda lain. Ketika mendengar sesuatu yang bergemerincing, anak perempuan dan laki-laki akan bereaksi dengan cara yang sama. Tetapi ketika Anda berbicara, bayi perempuan cenderung lebih merasa terikat.
  4. Mereka terampil membaca ekspresi emosional. Bayi perempuan lebih mampu menciptakan dan memelihara kontak mata, dan mereka tertarik pada wajah-wajah individual, khususnya wajah wanita. Mereka juga lebih terampil membaca ekspresi wajah. Jika Anda menunjukkan gambar wajah yang menakutkan, misalnya, mereka akan menatap Anda, atau menjadi sedih. Sebaliknya, mereka akan baik-baik saja jika melihat ekspresi yang bahagia. Sementara itu, anak laki-laki butuh waktu lebih lama untuk memerhatikan perbedaan antara kedua ekspresi ersebut, demikian menurut metaanalisa terhadap 26 studi mengenai kapasitas anak dalam mengenali ekspresi wajah.
  5. Mereka lebih cepat berbicara. Kebiasaan mereka mengamati dan mendengarkan akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Bayi perempuan menggunakan gerak tubuh seperti menunjuk atau melambaikan tangan lebih cepat daripada bayi laki-laki, dan mereka menguasai beberapa jenis permainan lebih awal. Anak perempuan memahami apa yang Anda katakan daripada anak laki-laki, mulai berbicara lebih awal (anak perempuan mulai berbicara sekitar usia 12 bulan, sedangkan anak laki-laki pada usia 13 hingga 14 bulan). Setelah itu, anak perempuan akan lebih cerewet hingga usia balita.
  6. Anak perempuan akan mengurus orangtuanya kelak. Mereka tidak saja membuat Anda rajin membeli pakaian dan aksesori yang lucu-lucu untuk mendandaninya, tetapi juga lebih mampu memberi rasa aman terhadap orangtuanya. Tidak seperti anak laki-laki yang cenderung akan menghabiskan waktu senggangnya di luar rumah, anak perempuan lebih peduli untuk menemani orangtuanya di rumah. Ketika dewasa, anak perempuanlah yang umumnya lebih mampu mengurus orangtuanya yang sudah renta.

Selasa, 25 Januari 2011

Sedikit Tentang Bapa

Selama ini, setiap berbicara tentang orangtua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya. Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya. Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia. Ibu, selalu ibu. Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus. Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.
Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu. Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya. Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia. Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat. Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak. Dia, sosok itu, ayah.

Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu. Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan. Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku. Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban shalatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya. Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sajadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya. Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa. Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil bershalawat. Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu. Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata. Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah, kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang. Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya. Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat. Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku. Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku. Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu. Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku. Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen. Ya, pasti begitu maksud ayah. Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya.

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf. Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih. Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, pasti aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan. Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya. Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku. Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala. Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang. Maka kepada-Nya lah aku berdoa.